Sepenggal Kisah di Bumi Perkemahan


Sepenggal Kisah di Bumi Perkemahan

Penerimaan Tamu Ambalan (PTA), sebuah acara kepramukaan yang rutin diadakan setiap tahunnya. Diadakan sebagai tanda diterimanya peserta PTA menjadi anggota pramuka Penegak.
        -.-.-.-

    Cahaya rembulan menerangi langit malam, menemani seorang gadis dengan kesendirian fikirannya. Bimbang, ragu, gugup. Semua rasa bercampur menjadi satu. Dia Kharisma, gadis kecil yang awam dengan dunia pramuka. Bertemankan bintang dia berfikir, akankah dia sanggup? Menjalankan sebuah tugas yang belum benar – benar ia kuasai. Tugasnya sederhana, namun ketakutannyalah yang membuatnya terlihat menegangkan. Perwakilan penyematan kartu tanda peserta, sederhana bukan? Tidak sampai lima menit tugasnya telah selesai. Hanya karena dulu ia bukan anak kambil (sebutan bagi anak pramuka aktif masa kini), membuatnya ragu dan takut. Ragu melakukan dan takut mengecewakan. 
    “Sudah malam tidurlah!” sebuah suara mengejutkan Kharisma ditengah kesendiriannya. Itu Bunda, sosok tanggung yang sangat dicintai Kharisma. Perlahan Bunda mendekat, mengelus lembut puncak kepala Kharisma seraya berkata “Jangan takut, semuanya akan baik – baik saja.”  “Iya Bunda” jawab Kharisma ditengah keraguan yang masih menyelimuti hatinya.

        -.-.-.-
    Untuk seluruh peserta PTA, pimpinan saya ambil alih, siiaaappp grak, setengah lencang kanan grak. 
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. 
Siiaapp graak.
Setengah lencang kanan graak.
Tegak graak.
“Untuk peserta yang kemarin ditunjuk sebagai perwakilan penyematan kartu tanda peserta silahkan mengambil posisi” instruksi komandan Apel ketika usai menyiapkan barisannya.
Akupun segera pergi menuju tempatku. Menyiapkan mental dan menetralkan jantung yang mulai berdetak tak karuan.
Rangkaian demi rangkaian acara telah usai, setelah Apel selesai, seluruh peserta PTA dipersilahkan memasuki ruangannya masing – masing. Aku dan teman – teman sanggaku pun demikian, bergegas memasuki ruangan dan menatanya sedemikian rupa untuk kenyamanan nanti malam. Di tengah perjalanan, tak sengaja ku dengar bisik – bisik peserta PTA lain yang berbeda sangga denganku.
Hatiku hancur,pertahananku roboh, air mataku tak lagi mampu ku bendung. Katakana saja aku cengeng, memang aku cengeng. Katakana saja aku lemah, memang aku sangat lemah. Bagaimana tidak? Mereka yang awalnya menyemangatiku untuk terus maju, ternyata menghujat di belakangku. Ketakutanku terjadi, ketika penyematan kartu tanda peserta aku melakukan kesalahan. Haluan kiriku tak sesuai dengan irama dan langkah kaki.
    Ku putuskan untuk pergi, menenangkan hati dan fikiranku yang mulai kacau. Dalam kesunyian belakang sekolah sore itu, aku merenung. Meyakinkan diriku untuk memilih, akankah harus berhenti sampai disini atau bangkit memulai kembali. 
“Hey Ma.” Sebuah suara mengejutkanku, sontak saja aku langsung menghapus genangan air mata yang menggumpal dipelupuk mataku. 
“Eh, ngapain Ri?” ucapku berusaha terlihat biasa saja.
“Lo habis nangis?” tanyanya.
“Enggak kog, gue biasa aja.” Jawabku sekenanya.
“Ma, gue tau kita emang baru kenal, tapi gue enggak bodoh. Gue bisa lihat dimata lo, ada kesedihan disitu. Sekarang lo cerita deh, lo ada masalah?”
“Nggak Ri, lo sotoy ya kadang – kadang, bikin gue laper.” candaku, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Kalo lo belum siap cerita nggak papa, gue ngerti kog. Tapi lo harus inget, jangan sampai kerikil kecil menghentikan perjuanganmu. Kalo kerikil kecil aja ngebuat lo jatuh dan berhenti, gimana dengan batu besar yang ada didepan sana? Perjuangan lo masih panjang Ma, anggap aja kegagalan lo adalah batu loncatan untuk membuat lo selangkah lebih maju.” Setelah mengucapkan itu Ridlo pergi, entah kemana.
        -.-.-.-
Cekreeekkk
    Suara pintu dibuka membuat semua orang melihat ke arahnya, menampilkan sosok gadis kecil yang lesu dan tak bertenaga, Kharisma.
“Ma, lo kenapa deh?” Tanya Eomma yang juga satu sangga dengan Kharisma.
“Gue nggak papa kog, sans aja” jawab Kharisma.
“Lo udah nyiapin buat pertunjukan nanti malem?” Tanya peserta yang lain kepada Kharisma.
    Seketika bayangan kegagalan itu datang kembali, kata – kata cemoohan itu berputan bagai kaset rusak yang tiada henti, membuat perasaan takutnya semakin besar dan mengecilkan nyalinya.
“Belum, gue nggak tampil aja.”
“APA!!!” serentak semuanya terkejut dengan ucapan Kharisma.
“Ma, lo jangan becanda deh.”
“Iya nih, nggak lucu tau nggak.”
Protes demi protes terlontar, tak terima bila sangga mereka tidak memberikan persembahan.
“Gue nggak bisa guys, gue takut gagal lagi.” Ucap Kharisna, memohon pengertian teman – temannya.
“Ma, lo nggak perlu takut, kalo lo takut gagal dan nyerah, lo nggk bakal tau dimana kemampuan lo. Jangan biarin ketakutan itu menguasai lo, kalahin ketakutan itu. Kalo lo nggk nyoba gimana lo mau berhasil?” kata Eomma yang dalam hati Kharisma  membenarkan semua ucapan itu.
“Oke gue ikut, tapi gue mohon dukung gue” putus Kharisma yang membuat semuanya bernafas lega.

        -.-.-.-
    Gemerlap bintang di langit malam. Kobaran api di bumi perkemahan. Nyanyian ramai terdengar, menciptakan cinta di bumi perkemahan.
Sesi pertunjukan dimulai, setiap perwakilan sangga mulai menunjukkan aksi dan bakatnya.
“Lo bisa kog, pokoknya PD aja.”
“Loss ndak rewel makk.”
Dukungan dari teman – teman Kharisma, membuat ketakutan itu mulai sirna. Hingga sebuah suara membuat suasana menjadi hening.
“Lo bisa, gue yakin itu. Asal lo hilangin semua ketakutan lo itu.”
Itu suara Ridlo, yang tiba – tiba datang dengan setelan pramukanya.
“Makasih Ri, gue coba.” Balas Kharisma dengan senyum simpul terpatri di bibirnya.


    Giliran Kharisma pun tiba, langkah demi langkah ia berjalan menuju podium. Suasana hening, tanpa suara. Kharisma pun menyapa, memulai aksinya. Hingga pertunjukannya usai dengan gema tepuk tangan riuh para penonton, membuat Kharisma meneteskan air matanya. Dalam hatinya Kharisma berterima kasih, Kepada Tuhan yang memberikannya kemudahan, teman – teman yang selalu mensupport nya dan kakak – kakak pendamping yang membantunya.
    Batinnya berkata, “Ketika kamu gagal jangan pernah menyerah, cobalah lagi. Tuhan memberimu kegagalan untuk membuatmu kuat dan tabah. Menjadikanmu manusia dengan kehidupan penuh warna, selalu taat kepada-Nya."

-SEKIAN-

Komentar